Pada post kali ini, saya ingin membahas mengenai kasus yang baru - baru ini terjadi di Yogyakarta, dan sedang menjadi pembicaraan hangat di dunia maya. Kasus yang saya maksudkan kali ini adalah mengenai statement dari seorang mahasiswi S2 dari sebuah PTN ternama di Yogyakarta. Berawal dari kekesalannya yang tidak mendapatkan BBM di sebuah statsiun pengisian bahan bakar, ia mengeluarkan uneg - unegnya yang menggeneralisir bahwa semua warga Yogyakarta itu buruk ( statement asli lebih kasar dari ini ). Statement yang melukai hati segenap masyarakat Yogyakarta ini diutarakan melalui sosial media path dan telah dilihat oleh masyarakat luas. Berbagai tanggapan muncul terhadap statement dari sang mahasiswi ini. Ada yang mengecam keras, ada yang tidak terima, ada yang melampiaskan emosinya dengan sumpah serapah, bahkan ada yang mengancam akan mengusir dia dari Yogyakarta. Memang perbuatan mahasiswi ini tidak dapat dibenarkan, karena telah melukai hati sebagian besar warga Yogyakarta. Akan tetapi, disayangkan juga ketika banyak dari mereka yang kemudian membawa - bawa asal daerah dan juga instansi tempat mahasiswi tersebut berkuliah. Hal ini rawan memancing terjadinya konflik yang berkelanjutan, yang tidak hanya melibatkan pribadi tersebut, akan tetapi juga kelompok dan ras yang sebelumnya hidup berdampingan dengan tenang di Yogyakarta. Kita perlu menyikapi hal ini dengan kepala dingin, sehingga tidak sampai menimbulkan konflik seperti di atas.
Dilihat dari fenomena yang terjadi, sikap yang ditunjukkan oleh sang mahasiswi tersebut telah menunjukkan adanya penyimpangan perilaku. Robert M.Z Lawang, mendefinisikan perilaku menyimpang sebagai semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Dalam hal ini, statement yang telah dikeluarkan oleh sang mahasiswi jelas bertentangan dengan nilai dan norma yang ada di Yogyakarta. Statement ini juga telah memancing reaksi keras dari dosen PTN tempat mahasiswi tersebut kuliah. Tampak dalam hal ini, mereka yang berwenang dalam sistem berusaha untuk memperbaiki perilaku dari mahasiswi tersebut. Hukuman menjadi opsi yang dapat dilakukan untuk menimbulkan efek jera dan perbaikan.
Tetapi yang menarik di kasus ini ketika sanksi melalui jalur hukum belum keluar, ternyata sanksi sosial yang didapat oleh mahasiswi ini dari masyarakat, terutama di media sosial; sudah terasa. Dapat dilihat bagaimana reaksi masyarakat yang begitu keras mengkritik statement mahasiswi tersebut. Selain itu, seluruh akun sosial media miliknya telah diumbar kepada publik oleh beberapa orang yang berhasil menemukan data - data dari mahasiswi ini. Tidak ada lagi ruang privat baginya di dunia maya. Hal ini berujung kepada ditutupnya beberapa akun sosial media milik mahasiswi ini oleh dirinya sendiri. Tampaknya, ia mulai menyadari dampak dari statement yang telah ia buat sebelumnya.
Masyarakat pun telah melabeli mahasiswi ini, baik dengan berbagai sebutan maupun dengan sumpah serapah. Tak bisa dipungkiri, meskipun di satu sisi menimbulkan hukuman sosial bagi yang bersangkutan, hal ini dapat menyebabkan individu yang mendapat labeling justru makin menjadi - jadi. Edwin M. Lemert telah mengungkapkan hal ini dalam teori labellingnya, dimana seseorang dapat makin menjadi - jadi ( dalam konteks penyimpangan sosial ) karena mendapat label negatif dari masyarakat di sekelilingnya. Tentu bukan hal ini yang diinginkan dari mereka yang ingin merubah perilaku mahasiswi ini. Perubahan yang diinginkan tentu perubahan ke arah yang lebih baik.
Setelah melihat tinjauan sederhana di atas, mari bersama - sama menjadi masyarakat cerdas yang tidak hanya bisa mengecam dan cenderung mem-bully individu yang melakukan tindakan menyimpang. Kita harus lebih bijak menyikapi dan bersikap terhadap individu seperti ini, agar jangan sampai muncul individu - individu seperti ini di masa yang akan datang.
Terlepas dari artikel di atas, saya pribadi sebagai seorang pendatang juga mempunyai kewajiban turut menjaga Yogya agar tetap berhati nyaman. Mari bersama mewujudkan hal itu dan bersinergi membangun Yogyakarta yang lebih baik lagi. Salam :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar