
Dalam artikel yang saya tulis sebelumnya, saya telah mengungkapkan bagaimana internet bisa "merubah" sejarah dengan membuat berbagai "fakta" baru yang ada, dengan "menghilangkan" fakta asli yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut rupanya juga menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Khususnya akhir-akhir ini, saya turut merasakan dampak dari adanya fenomena tersebut. Ah, mungkin kurang tepat jika hanya saya sebut "saya", akan tetapi mungkin lebih baik saya sebut "kita", karena kita semua tentu merasakan dampak dari fenomena ini.
Dalam artikel kali ini, saya ingin mengkritisi bagaimana pengguna internet di Indonesia dengan mudah dapat mempercayai berbagai tulisan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan fakta yang ada. Asalkan ia meyakini tulisan tersebut benar, apalagi sesuai dengan argumen dan pendapat yang ia miliki, dengan bangga dan seolah tanpa dosa ia akan menyebarkan tulisan yang ia dapatkan tersebut. Untuk kasus kali ini, saya menyoroti berbagai tulisan mengenai agama yang muncul di berbagai media saat ini.
Apakah hal tersebut merupakan suatu kesalahan? Sebagai seorang mahasiswa sosiologi, saya berusaha melihat hal ini melalui berbagai sudut pandang. Ketika kita melihat dari sudut pandang sang pembuat tulisan, akan saya bagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah tipe pembuat tulisan yang tak pernah pernah merasa bersalah. Ia meyakini apa yang ia tulis benar, karena memang hanya itulah yang ia pelajari dan ia pahami dari apa yang ia lihat, ia baca, dan ia tangkap. Kemudian terdapat tipe pembuat tulisan yang bersifat kritis. Ia sebisa mungkin melihat fakta-fakta empiris yang ada, melakukan studi literatur, serta sebisa mungkin melakukan pengecekan terhadap sumber-sumber yang ia baca. Melihat dari sudut pandang pembaca tulisan; sebelumnya saya ingin lebih detil merinci para pembaca tulisan. Ada tipe pembaca yang begitu membaca dan merasa tulisan tersebut sepaham dengan apa yang ia yakini, ataupun mendukung argumennya, akan langsung setuju, tanpa mempertanyakan keakuratan maupun kebenaran dari tulisan tersebut. Ini berarti, sekalipun tulisan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada, ia tetap akan setuju bahkan cenderung membela ketika tulisan tersebut mendapatkan kritikan dari pembaca yang tidak sepaham. Kemudian, tipe pembaca cerdas. Tipe pembaca ini adalah mereka yang mengamati tulisan yang ada, mencermati dan mencerna setiap kalimat, kemudian mempertanyakan keakuratan serta kebenaran tulisan tersebut. Ketika sudah melihat fakta yang benar-benar terjadi, baru mereka akan membagikan informasi yang ada tersebut kepada orang lain. Pembaca tipe ini juga cenderung tidak mudah tersinggung ketika ada kritik bagi tulisan yang mereka yakini benar tersebut. Sebaliknya, ia kemudian kembali mencermati dan melihat isi tulisan yang ia dukung. Jika memang tulisan yang ia baca adalah tulisan yang tak valid, ia tak segan berbalik mengkritik tulisan tersebut. Pembaca ini saya kategorikan sebagai pembaca cerdas. Mereka tak mudah terpengaruh oleh opini publik.
Kembali lagi ke duduk permasalahan. Apa yang membuat saya akhirnya memutuskan mengangkat tema ini?
Ini tak terlepas dari fenomena yang sekarang tampaknya menjadi sebuah fenomena yang sedang menjamur di kalangan pengguna internet Indonesia saat ini. Ketika melihat beberapa tulisan yang tersebar di berbagai media jejaring sosial yang ada, saya melihat banyak di antara tulisan tersebut hanyalah tulisan yang pada ujungnya menjadi pemantik konflik yang rawan tercipta di Indonesia.
Jika ada yang bertanya pada saya, bagaimana contohnya, mari kita bersama-sama menengok realita yang ada di dunia maya saat ini. Terdapat banyak sekali berita yang seolah-olah menggunakan agama sebagai "alat pembenaran" atas apa yang mereka tulis. Tidak usah saya sebutkan apa saja, saya yakin kalian adalah para pembaca cerdas yang dapat mengenali tulisan tersebut.
Ya, saya prihatin dengan hal ini. Mereka menulis tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkan terhadap kesatuan dan persatuan bangsa ini. Apa yang mereka tulis semata hanyalah pemahaman dangkal terhadap keyakinan yang mereka anut, dan pada akhirnya menumbuhkan sikap fanatisme buta pada diri mereka sendiri. Seorang individu dengan sikap fanatisme buta akan cenderung memiliki sifat-sifat ini; ia tidak tahan menerima kritik dari orang yang tak sepaham dengannya; ia selalu menyerukan hal-hal yang menjadi "kebenaran" baginya, meskipun hal tersebut sesungguhnya adalah kebenaran semu. Ia selalu bersikap seolah-olah ialah satu-satunya orang yang benar, tanpa melihat fakta yang ada disekitarnya; ia menjadi sinis terhadap orang yang tidak sepaham dengannya, dan cenderung menunjukkan sikap tak bersahabat; dan ia biasanya adalah individu yang tidak pernah mau belajar. Kenapa tak mau belajar? Ia tak mau belajar menghargai perbedaan. Ia tidak mau belajar untuk menumbuhkan sikap simpati dan empati terhadap orang lain. Ia tak mau belajar dari berbagai sumber yang ada, ia hanya melihat suatu hal dari satu sudut pandang, yang membuatnya tidak ubah halnya seperti seekor kuda, hanya melihat apa yang ada di depannya. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang ada di sekelilingnya. Apa yang ia perbuat seolah-olah adalah satu-satunya hal yang benar.
Hal tersebut tentunya membahayakan bagi persatuan bangsa Indonesia. Seperti yang kita tahu, Indonesia adalah masyarakat multikultural. Masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, dan kepercayaan. Apa yang akan terjadi jika ada pihak yang berusaha menghembuskan isu-isu seperti di atas? Tentu ini mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini. Bayangkan, jika suatu saat terdapat tulisan yang mengatasnamakan agama A, menulis hal-hal negatif dari agama B, dan kemudian menyebarkannya dengan diiringi embel-embel "menurut kitab suci yang kita anut", meskipun belum tentu hal tersebut sungguh-sungguh ada dalam kitab suci tersebut.
Pembaca yang cerdas, tentu tidak akan serta merta mempercayai hal tersebut, dan akan berusaha mencari kebenaran terlebih dahulu dari apa yang telah ia dapatkan. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang tak mau membaca? Hal yang terjadi akan sangat fatal. Mereka tentu akan langsung mempercayai tulisan tersebut, dan menjadikannya sebagai dasar untuk membenci, menumbuhkan sifat anti, bahkan "menyerang" umat agama B. Menyerang dalam konteks ini, tidak berarti hanya menyerang secara "fisik", namun juga secara psikis, misalnya dengan intimidasi. Jika sudah begitu, siapa yang akan rugi jika terjadi pertikaian? Tentu kita semua. Belum hilang dari kita beberapa peristiwa yang mengatasnamakan agama yang pada akhirnya menjadi dasar pertikaian berdarah yang memakan korban jiwa.
Ketika hal itu sudah terjadi, masih pantaskah kita menyebut diri kita sendiri "umat beragama"? Jika ya, apakah agama kita anut mengajarkan kalian untuk menjadi penyebar kebencian, penabur benih pertikaian, dan penganut kekerasan? Hmm, saya rasa tidak ada agama seperti itu :) Karena pada dasarnya, sesuai definisi pada KBBI, agama adalah ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Mari kita bersama merenung atas fenomena yang terjadi ini, dan kemudian berusaha untuk menjadi pembuat tulisan serta pembaca yang cerdas :)
Terimakasih atas perhatiannya, ^^

