![]() |
| Life Cycle of a College Student |
Yo, sekarang saya mau buat sebuah renungan singkat mengenai IP.
Wait, kenapa harus IP?
Ehem, jadi begini. Kan kalian sendiri juga udah tau, ada beberapa fakultas yang telat ngeluarin nilai-nilainya, yap, fakultas saya termasuk. Sebenarnya nggak telat juga sih, cuma kalau dibanding fakultas lain yang udah duluan ngeluarin nilai di web mereka, ya emang fisipol paling telat, wong kami testnya juga kelarnya baru juga kemarin tanggal 17 -_-
Oke, back to topic. IP, atau biasa disebut Indeks Prestasi, adalah hasil yang dapat kita lihat di web akademik yang ada di universitas kita masing-masing. IP adalah hasil dari beberapa nilai yang ada, dan kemudian dirata-rata. Rentang IP mulai dari 0 koma sampai paling tinggi 4. Sementara nilai sendiri didefinisikan dengan abjad. Ada A, B, C, D, sampai F paling parah --"
Yap, sekarang masalahnya, kenapa IP jadi masalah yang bisa dibilang agak sensitif?
Baik, akan saya mulai dari definisi IP, dan bagaimana IP itu kita dapetin.
Seperti kita tahu, IP adalah hasil dari kerja keras kita selama satu semester ( jika emang kita kuliah sungguh-sungguh lho :p ) dan merupakan "buah" dari "biji" yang telah kita tanam. Buah yang akan kita dapatkan hasilnya tergantung dari bagaimana kita merawat biji yang telah kita tanam tadi. Kalau emang kita perhatikan dan kita rawat sungguh-sungguh, tentu hasilnya baik dan memuaskan. Namun, kalau kita cuek-cuek aja, ya hasilnya berbanding lurus dengan apa yang telah kita perbuat.
Nah, akan tetapi ada hal menarik disini. Kita tidak sendirian dalam berusaha menghasilkan buah yang baik tersebut. Masih ada faktor-faktor yang mempengaruhi apa yang akan kita dapatkan, diantaranya adalah faktor dosen yang bersangkutan.Kok bisa dosen? Oke, saya akan kasih ilustrasi ini.
Dosen ibaratnya adalah pemilik kebun yang kita tanam. Ketika sudah berusaha semaksimal mungkin, namun jika beliau nggak menghendaki kita membawa pulang hasil yang telah kita tanam, ya sama aja zonk ! Nah sama juga disini. Ketika udah usaha semaksimal mungkin, tapi jika dosen nggak menghendaki IP kita bagus, ya ga akan dikasih bagus -_-
Pernah nggak, kalian mengalami hal ini ; Kalian merasa sudah maksimal mengerjakan tugas, sudah berusaha sebaik mungkin mempelajari materi yang diberikan, namun mendapat hasil tidak maksimal?
Jika ya, jangan terburu-buru menyalahkan dosen yang bersangkutan. Lho, gimana maksudnya?
Dosen juga manusia. Dosen bukanlah dewa yang selalu benar, adakalanya dosen juga melakukan kesalahan dalam melakukan tugasnya. Dosen juga bukanlah mesin yang nggak mempunyai perasaan, dan hanya mengandalkan logika. Dosen adalah seorang manusia, yang bisa merasakan, bisa menilai keadaan, dan butuh interaksi yang harmonis dengan anak didiknya.
Jika boleh berintrospeksi, ada kalanya kita harus melihat apa yang telah kita lakukan. Di atas sudah disebutkan, usaha, tugas, belajar, dirasa udah maksimal. Tapi mengapa nilai tetep ga sesuai ekspetasi?
Kita harus melihat realita yang ada. Meskipun idealnya Dosen harus objektif dalam menilai, tak dapat dipungkiri, Dosen juga manusia yang memiliki perasaan. Tidak bisa dikatakan, dosen selalu objektif. Pasti adakalanya, dosen menjadi subjektif dalam memberikan nilai.
Misalnya, ia mengajar kelas yang menyenangkan, anak didik yang memperhatikan, dan situasi yang kondusif. Sudah dapat dipastikan ia akan senang dengan keadaan tersebut, dan bukan tidak mungkin ia menjadi dermawan ketika memberikan nilai.
Bandingkan dengan dosen yang mendapati kelas yang tak pernah memperhatikan, banyak mahasiswanya yang TA, dan suasana kurang kondusif. Mau tak mau, sebagaimana manusia pada umumnya ia pasti akan merasa tidak nyaman, bahkan tidak suka pada kelas seperti itu. Jika sudah begini, kita nggak akan tahu, dia akan memberikan nilai apa kepada kita. ( yep, ini pengalaman saya -_- )
Melihat fakta yang ada di atas, sepantasnya kita kembali merenung. Jika IP yang kita dapat memang sudah memuaskan, kita patut bersyukur dan berusaha terus meningkatkan hasil yang terus kita dapatkan. Akan tetapi, jika belum memuaskan, mari kawan, bersama kita berhenti misuh-misuh atau marah-marah. Ingat kembali kesalahan apa yang telah kita lakukan, dan perbaiki kesalahan itu di semester depan. Jangan pernah mencoba menyalahkan dan mencari kambing hitam atas apa yang telah kita lakukan. Cobalah menjadi ksatria yang berani mengakui kekalahan diri sendiri, dan memperbaikinya. ITU ! *sambil nunjuk dengan aksen Mario Teguh*
Yo, setelah definisi di atas, balik lagi ke masalah awal. Kenapa IP bisa jadi hal yang sensitif banget? Yap, menurut saya hal ini dikarenakan IP yang didapat tiap anak yang berbeda. Lha, beda kok jadi masalah?
Ini poinnya. Ada anak yang merasa sudah berusaha maksimal, eeeh dapatnya cuma 3. Sementara ada anak yang di kelas kelihatannya cuma main-main, eh dapat IP 4.
Ya, itu kan yang keliatan doang. Siapa tau juga dia tekun belajar di rumah / kosnya.
Akan tetapi, gimana perasaan anak yang merasa udah usaha maksimal? Wajarnya sih dia bakal ngga terima. Kalau udah ngga terima, wah ke depannya bakal susah tuh -_-
Lagipula, IP adalah hak kita sendiri. Jika memang ada orang lain yang ingin tau, ya itu terserah kita, mau beritahu apa nggak. Syukur-syukur kalau IPnya bagus, pasti dengan senang hati ngasih tau, tapi kalau jelek, gimana coba?
Oh, sekalian, saya juga agak prihatin. Demi IP yang bagus, banyak mahasiswa yang cenderung jadi pragmatis. Dia cuma melihat hasil akhir aja, tanpa memandang usaha yang telah dilakukan. Karena itu juga, banyak esensi dari belajar ilmu pengetahuan yang hilang. Mereka hanya mementingkan hasil akhirnya saja, sehingga ada juga mahasiswa yang menghalalkan segala cara, termasuk menyontek untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Padahal, kita belajar tidak hanya untuk mendapatkan nilai semata. Kita belajar, sesuai dengan tujuannya, untuk mencari "pencerahan" atas "kegelapan" yang ada. Kita belajar untuk memahami, mengerti, dan kemudian menerapkan apa yang telah kita pelajari. Bukan semata menghafal, tanpa memahami esensi dari apa yang telah kita pelajari.
Kita juga wajib memberikan ilmu yang telah kita pelajari kepada orang lain, karena sesuai hakikatnya, ilmu tidak akan berkurang. Semakin banyak kita berbagi ilmu, semakin kita akan terlatih dan menguasai ilmu tersebut. Ilmu adalah hak setiap orang, dan ilmu selalu tersedia bagi mereka yang membutuhkannya.
Nah, untuk menutup renungan kali ini saya akan memberi satu pengalaman saya ketika berbicara mengenai IP dengan salah seorang teman saya, sebut saja Dhano. Begini isinya;
A : Haduh, IP kok diumbar-umbar.
D : Iya he, -_-
A : Dhan, menurutmu piye ki statementku? IP itu sebenarnya seperti alat kelamin bagi laki-laki. Kalau IPnya gede, emang bagus, tapi ya ga usah diumbar juga kali sama temen-temen, malu-maluin.
D : Lha kalau kecil?
A : Apalagi. Epic fail !
D : Hahaha, sakkarepmu lah ndre, ndre...
A : Eh statementku ga berlaku waktu wisuda lho, soalnya pas wisuda kan ditunjukin ke umum tuh IP Kumulatif yang paling gede, hahahaha
D : Iya iya, hahahaha
Oke, gitu aja dari saya... Jika ada kritik dan saran, langsung aja tulis di komentar ya... Makasih :) Oh ye, selamat malam mingguan bagi yang merayakan, hahahaha XD

sipp ndreee, tapi ya statementmu yg akhir ga gitu jugaa kalii hwahahaha
BalasHapussorry baru bales git, baru sadar ada komentarmu :D
HapusHahaha, kuwi biasa, percakapan ngaco antara aku dan dhano. You know what lah, Dhano dan aku koyo pie nek gek ngobrol wkwkwk. Btw salam gawe ainun yo nek ketemu, kangen karo jajane ki hahaha