Kamis, 28 Agustus 2014

Masyarakat dan Labeling Individu

Pada post kali ini, saya ingin membahas mengenai kasus yang baru - baru ini terjadi di Yogyakarta, dan sedang menjadi pembicaraan hangat di dunia maya. Kasus yang saya maksudkan kali ini adalah mengenai statement dari seorang mahasiswi S2 dari sebuah PTN ternama di Yogyakarta.

Jumat, 09 Mei 2014

#MasukSosiologi ?

Oke, kali ini saya mau membahas masalah mengapa saya mau #MasukSosiologi. Untuk pembukanya, mari kita bersama – sama mencoba memahami sosiologi. Untuk apa sebenarnya kita mempelajari sosiologi? Untuk apa kita #MasukSosiologi ? Kemudian mari kita bersama – sama menyelaraskan pemikiran kita mengenai sosiologi. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud sosiologi itu? Dan termasuk ilmu apakah sosiologi ini?
                Manfaat sebuah ilmu adalah hal yang seringkali muncul pada benak kita ketika kita akan mempelajarinya. Pada hal ini, apa sebenarnya manfaat yang bisa kita peroleh ketika kita mempelajari sosiologi? Saya rasa, banyak yang akan menanyakan hal tersebut, bahkan tak jarang dengan nada sarkastik. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa sosiologi hanyalah usaha mengumpulkan apa yang telah diketahui semua orang, dan menuliskannya kedalam kata – kata yang tidak bisa dipahami oleh siapa pun.
                Ketika kita melihat dari perspektif orang yang sudah antipati terhadap sosiologi, sosiologi hanya dilihat sebagai ilmu yang menciptakan pengacau masyarakat, pembuat onar, bahkan tukang protes yang hanya mengganggu ketertiban dan stabilitas umum. Bagi para elite politik yang pro dengan status quo,  sosiologi dilihat sebagai ideology yang berbahaya yang seringkali melahirkan provokator yang hanya berpotensi mengganggu keharmonisan masyarakt. Di mata para pemegang kekuasaan, sosiologi bahkan dituduh merelatifkan tatanan yang mereka janjikan akan ditingkatkan dan dipertahankan, dan karena itu melemahkan kekuasaan mereka, serta memicu terjadinya kerusuhan dan subversi ( Bauman, dalam Kuper & Kuper, Enisklopedi Ilmu – ilmu sosial, 2000 : 1023 )
                Benarkah seperti itu gambaran sosiologi?
                Berbeda dengan ilmu – ilmu terapan lain, seperti kedokteran, teknik sipil, ekonomi, huku, farmasi, dan lain – lain – yang mencetak sarjana atau para professional yang siap praktik di masyarakan maupun di dunia usaha. Sosiologi pada dasarnya memang tidak bertujuan utama menghasilkan para praktisi atau “tukang”. Seperti dikatakan Peter L. Berger ( 1985 ) produk dari sosiologi sendiri adalah para pemikir yang senantiasa peka dan kritis terhadap realitas sosioal. Sumbangan sosiologi terhadap usaha pengembangan masyarakat memang tidak bisa langsung dirasakan, tetapi sifatnya mendasar karena sosiologi mampu menyuguhkan analisis dan evaluasi terhadap berbagai hal yang dalam banyak hal di luar pemikiran disiplin ilmu lain.
                Sosiologi, pada dasarnya bukanlah semata – mata ilmu murni belaka, namun juga merupakan ilmu terapan.  Seperti kita ketahui, hakikat dari ilmu murni adalah menegembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun tujuan dari sosiologi sendiri bukanlah semata – mata seperti hal tersebut. Sosiologi bisa menjadi ilmu terapan yang menyajikan cara – cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau asalah sosial yang perlu ditanggulangi ( Horton dan Hunt, 1987 : 41 )
                Untuk lebih jelasnya seperti ini ilustrasinya. Seorang sosiolog yang meneliti mengapa bisa terjadi fenomena anak jalanan, dan menelusuri asal muasal serta mendalami masalah tersebut merupakan seorang ilmuwan murni. Akan tetapi, ketika ia menggunakan hasil penelitiannya tersebut untuk menekan jumlah anak jalanan yang terus meningkat, dengan begitu dalam hal ini sosiologi telah menjadi ilmu terapan.
                Sosiologi, ketika berada dalam tataran praksis bukanlah ilmu yang kaku dan selalu menekan kepada apa yang seharusnya terjadi, melainkan sosiologi adalah sebuah ilmu yang mempunyai sudut pandang baru atau ilmu yang selalu mencoba menelanjangi realitas, mengungkap fakta yang tersembunyi di realitas yang tampak. Sosiologi selalu tidak eprcaya pada apa yang tampak sekilas dan mencoba menguak serta membongkar apa yang tersembunyi di balik realitas nyata; karena sosiologi berkeyakinan bahwa “dunia bukanlah sebagaimana nampaknya “, tetapi dunia yang sebenarnya baru bisa dipahami jika dikaji secara mendalam dan diinterpretasikan ( Berger dan Kellner, 1985 : 5 )
                Kemudian, lebih singkatnya saya akan langsung menuju definisi sosiologi; meskipun terdapat berbagai pendapat mengenai definisi sosiologi, saya akan mengutip pendapat yang dikatakan Bagong Suyanto, bahwa Sosiologi tidak hanya merupakan suatu kumpulan subdisiplin segala bidang kehidupan, melainkan merupakan suatu studi tentang masyarakat.
                Akhirnya, saya akan membahas peran seorang sosiolog dalam masyarakat. Tentu terdapat dalam benak kita semua ketika akan #MasukSosiologi akan jadi apa sih kita kelak? Sebenarnya, dimana dan sebagai apa sesorang sosiolog bakal berikprah tidak mungkin bisa dibatasi dalam sebutan administrasi okupasi resmi yang diklasifikasikan pemerintah dan BPS. Namun, di berbagai negara sendiri telah muncul pengakuan yang kuat terhadap sumbangan dan peran sosiolog di berbagai bidang kehidupan. Menurut Horton dan Hunt ( 1987 ) ada beberapa profesi yang umumnya diisi oleh para sosiologi; antara lain :
1.       Ahli riset; baik riset ilmiah untuk kepentingan pengenmbangan keilmuan atau riset yang diperlukan sektor industry
2.       Konsultan kebijakan; lebih khusus lagi yaitu untuk membantu memeprikaran dampak dari kebijaksanaan sosial tertentu.
3.       Teknisi / Sosiolog Klinis, yakni ikut terlibat dalam kegiatan perencaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat
4.       Sebagai dosen / pendidik yang telibat dalam kegiatan belajar – mengajar
5.       Sebagai seorang pekerja sosial
Apakah hanya itu? Tentu tidak. Ijinkan saya ikut berbagi pengalaman saya ketika melihat para alumnus sosiologi yang telah berhasil menerapkan ilmunya. Banyak bukti menunjukkan, bahwa dengan kepekaan dan semangat keilmuannya yang selalu berusaha membangkitkan sikap kritis, para sosiolog ternyata bisa berkarier cemerlang di berbagai bidang pekerjaan yang banyak menuntut kreativitas, di dunia jurnalistik, lihatlah artikel yang ditulis para sosiolog seringkali sangat “menggigit”. Di jajaran birokrasi, para sosiolog acapkali menonjol kariernya karena kelebihannya dalam wawasan dan visinya atas nasib rakyat – terutama rakyat kecil yang rentan dan miskin. Lulusan sosiologi universitas saya sendiri banyak yang menjadi birokrat, baik di tingkat daerah maupun nasional. Di perusahaan / sektor industry yang memiliki litbang, sumbangan para sosiolog sangat dibutuhkan, karena salah satu kelebihan sosiologi adlaah kekuatannya di bidang penelitian.
                Kembali lagi kepada kita, seiring dengan perubahan sosial yang terjadi, peran dan keterlibatan para sosiolog dalam berbagai sektor akan makin penting dan dibutuhkan. Karier dan pekerjaan yang dimasuki sosiologi, niscaya akan bisa dilalui dan dikerjakan dengan sukses karena ilmu yang dipelajari akan sangat membantu mereka untuk memahami peran yang bermacam – macam itu dengan wawasan yang lebih luas.
                Persoalannya sekarang tinggal bagaimana para sosiolog terus berusaha meningkatkan kualitasnya dan berusaha meningkatkan kualitas dan berusaha memenuhi tuntutan perkembangan masyarakat dengan sebaik – baiknya.
                Kiranya, itulah yang dapat saya sampaikan. Sedikit gambaran untuk mereka yang ingin #MasukSosiologi. Gambaran singkat yang saya peroleh dari buku Sosiologi : Teks pengantar dan terapan ini kiranya dapat menjadi bekal bagi kalian yang bimbang ketika ingin #MasukSosiologi. Ketika sudah menetapkan pilihan kalian untuk #MasukSosiologi, mantapkanlah hati kalian dan jangan biarkan orang lain mencampuri masa depan kalian sendiri. Mengacu pada prinsip seorang sosiolog yaitu skeptik, jangan mudah percaya dengan perkataan yang ada, telusurilah kebenaran dari perkataan tersebut. Satu pesan dari saya pribadi, apapun pilihan yang kalian buat, kalian harus berani mempertanggungjawabkan pilihan kalian kelak, karena apapun pilihan yang kalian buat, niscaya akan sangat berdampak baik kepada kalian sendiri, maupun orang – orang disekitar kalian.

                Akhir kata, semangat untuk yang mau #MasukSosiologi, semangat juga untuk yang mau masuk jurusan lain. Doa saya beserta kalian J

Kamis, 20 Februari 2014

Ketika kemuliaan agama terbentur fanatisme buta



Dalam artikel yang saya tulis sebelumnya, saya telah mengungkapkan bagaimana internet bisa "merubah" sejarah dengan membuat berbagai "fakta" baru yang ada, dengan "menghilangkan" fakta asli yang terdapat di dalamnya. Hal tersebut rupanya juga menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Khususnya akhir-akhir ini, saya turut merasakan dampak dari adanya fenomena tersebut. Ah, mungkin kurang tepat jika hanya saya sebut "saya", akan tetapi mungkin lebih baik saya sebut "kita", karena kita semua tentu merasakan dampak dari fenomena ini.


Dalam artikel kali ini, saya ingin mengkritisi bagaimana pengguna internet di Indonesia dengan mudah dapat mempercayai berbagai tulisan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan fakta yang ada. Asalkan ia meyakini tulisan tersebut benar, apalagi sesuai dengan argumen dan pendapat yang ia miliki, dengan bangga dan seolah tanpa dosa ia akan menyebarkan tulisan yang ia dapatkan tersebut. Untuk kasus kali ini, saya menyoroti berbagai tulisan mengenai agama yang muncul di berbagai media saat ini.


Apakah hal tersebut merupakan suatu kesalahan? Sebagai seorang mahasiswa sosiologi, saya berusaha melihat hal ini melalui berbagai sudut pandang. Ketika kita melihat dari sudut pandang sang pembuat tulisan, akan saya bagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah tipe pembuat tulisan yang tak pernah pernah merasa bersalah. Ia meyakini apa yang ia tulis benar, karena memang hanya itulah yang ia pelajari dan ia pahami dari apa yang ia lihat, ia baca, dan ia tangkap. Kemudian terdapat tipe pembuat tulisan yang bersifat kritis. Ia sebisa mungkin melihat fakta-fakta empiris yang ada, melakukan studi literatur, serta sebisa mungkin melakukan pengecekan terhadap sumber-sumber yang ia baca. Melihat dari sudut pandang pembaca tulisan; sebelumnya saya ingin lebih detil merinci para pembaca tulisan. Ada tipe pembaca yang begitu membaca dan merasa tulisan tersebut sepaham dengan apa yang ia yakini, ataupun mendukung argumennya, akan langsung setuju, tanpa mempertanyakan keakuratan maupun kebenaran dari tulisan tersebut. Ini berarti, sekalipun tulisan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada, ia tetap akan setuju bahkan cenderung membela ketika tulisan tersebut mendapatkan kritikan dari pembaca yang tidak sepaham. Kemudian, tipe pembaca cerdas. Tipe pembaca ini adalah mereka yang mengamati tulisan yang ada, mencermati dan mencerna setiap kalimat, kemudian mempertanyakan keakuratan serta kebenaran tulisan tersebut. Ketika sudah melihat fakta yang benar-benar terjadi, baru mereka akan membagikan informasi yang ada tersebut kepada orang lain. Pembaca tipe ini juga cenderung tidak mudah tersinggung ketika ada kritik bagi tulisan yang mereka yakini benar tersebut. Sebaliknya, ia kemudian kembali mencermati dan melihat isi tulisan yang ia dukung. Jika memang tulisan yang ia baca adalah tulisan yang tak valid, ia tak segan berbalik mengkritik tulisan tersebut. Pembaca ini saya kategorikan sebagai pembaca cerdas. Mereka tak mudah terpengaruh oleh opini publik.


Kembali lagi ke duduk permasalahan. Apa yang membuat saya akhirnya memutuskan mengangkat tema ini?
Ini tak terlepas dari fenomena yang sekarang tampaknya menjadi sebuah fenomena yang sedang menjamur di kalangan pengguna internet Indonesia saat ini. Ketika melihat beberapa tulisan yang tersebar di berbagai media jejaring sosial yang ada, saya melihat banyak di antara tulisan tersebut hanyalah tulisan yang pada ujungnya menjadi pemantik konflik yang rawan tercipta di Indonesia.


Jika ada yang bertanya pada saya, bagaimana contohnya, mari kita bersama-sama menengok realita yang ada di dunia maya saat ini. Terdapat banyak sekali berita yang seolah-olah menggunakan agama sebagai "alat pembenaran" atas apa yang mereka tulis. Tidak usah saya sebutkan apa saja, saya yakin kalian adalah para pembaca cerdas yang dapat mengenali tulisan tersebut.
Ya, saya prihatin dengan hal ini. Mereka menulis tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkan terhadap kesatuan dan persatuan bangsa ini. Apa yang mereka tulis semata hanyalah pemahaman dangkal terhadap keyakinan yang mereka anut, dan pada akhirnya menumbuhkan sikap fanatisme buta pada diri mereka sendiri. Seorang individu dengan sikap fanatisme buta akan cenderung memiliki sifat-sifat ini; ia tidak tahan menerima kritik dari orang yang tak sepaham dengannya; ia selalu menyerukan hal-hal yang menjadi "kebenaran" baginya, meskipun hal tersebut sesungguhnya adalah kebenaran semu. Ia selalu bersikap seolah-olah ialah satu-satunya orang yang benar, tanpa melihat fakta yang ada disekitarnya; ia menjadi sinis terhadap orang yang tidak sepaham dengannya, dan cenderung menunjukkan sikap tak bersahabat; dan ia biasanya adalah individu yang tidak pernah mau belajar. Kenapa tak mau belajar? Ia tak mau belajar menghargai perbedaan. Ia tidak mau belajar untuk menumbuhkan sikap simpati dan empati terhadap orang lain. Ia tak mau belajar dari berbagai sumber yang ada, ia hanya melihat suatu hal dari satu sudut pandang, yang membuatnya tidak ubah halnya seperti seekor kuda, hanya melihat apa yang ada di depannya. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu apa yang ada di sekelilingnya. Apa yang ia perbuat seolah-olah adalah satu-satunya hal yang benar.

Hal tersebut tentunya membahayakan bagi persatuan bangsa Indonesia. Seperti yang kita tahu, Indonesia adalah masyarakat multikultural. Masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, dan kepercayaan. Apa yang akan terjadi jika ada pihak yang berusaha menghembuskan isu-isu seperti di atas? Tentu ini mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini. Bayangkan, jika suatu saat terdapat tulisan yang mengatasnamakan agama A, menulis hal-hal negatif dari agama B, dan kemudian menyebarkannya dengan diiringi embel-embel "menurut kitab suci yang kita anut", meskipun belum tentu hal tersebut sungguh-sungguh ada dalam kitab suci tersebut.


Pembaca yang cerdas, tentu tidak akan serta merta mempercayai hal tersebut, dan akan berusaha mencari kebenaran terlebih dahulu dari apa yang telah ia dapatkan. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang tak mau membaca? Hal yang terjadi akan sangat fatal. Mereka tentu akan langsung mempercayai tulisan tersebut, dan menjadikannya sebagai dasar untuk membenci, menumbuhkan sifat anti, bahkan "menyerang" umat agama B. Menyerang dalam konteks ini, tidak berarti hanya menyerang secara "fisik", namun juga secara psikis, misalnya dengan intimidasi. Jika sudah begitu, siapa yang akan rugi jika terjadi pertikaian? Tentu kita semua. Belum hilang dari kita beberapa peristiwa yang mengatasnamakan agama yang pada akhirnya menjadi dasar pertikaian berdarah yang memakan korban jiwa.


Ketika hal itu sudah terjadi, masih pantaskah kita menyebut diri kita sendiri "umat beragama"? Jika ya, apakah agama kita anut mengajarkan kalian untuk menjadi penyebar kebencian, penabur benih pertikaian, dan penganut kekerasan? Hmm, saya rasa tidak ada agama seperti itu :) Karena pada dasarnya, sesuai definisi pada KBBI, agama adalah ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Mari kita bersama merenung atas fenomena yang terjadi ini, dan kemudian berusaha untuk menjadi pembuat tulisan serta pembaca yang cerdas :)

Terimakasih atas perhatiannya, ^^

Ironi kebohongan di atas kalimat kejujuran

If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it. ~ Dr. Joseph Goebbels, Hitler's minister of propaganda

Jika kau menceritakan sebuah kebohongan besar dan terus-menerus mengulangi kebohongan tersebut, orang-orang pada akhirnya akan mempercayai kebohongan itu. - Dr. Joseph Goebbels, menteri propaganda Adolf Hitler.

Ketika melihatnya, saya setuju dengan apa yang diutarakan dalam kalimat tersebut. Bagaimana dengan kalian? Bukankah itu realita yang ada saat ini?

Nah, meskipun tampaknya benar apa adanya, saya tertarik mempelajari kalimat tersebut lebih lanjut. Namun temuan yang saya temukan ternyata lebih mengejutkan dari apa yang saya harapkan. Setelah mempelajari beberapa sumber, ternyata saya menemukan bahwa kalimat yang saya temukan tadi, bukanlah kalimat asli dari Joseph Goebbels.
Ironis memang, sebuah kalimat yang menyerukan agar tidak mudah mempercayai sebuah kebohongan, ternyata berasal dari kebohongan.
Ketika melihat beberapa sumber pertama, memang terdapat kesamaan di antaranya; mereka hanya mengatakan bahwa Goebbels lah yang mengatakan kalimat tersebut, tanpa menyertakan kapan dan dimana dia mengatakan atau menuliskan kalimat tersebut.

Rasa skeptis lah yang mendorong saya untuk meneliti lebih lanjut fenomena ini. Akhirnya, sampailah saya ke suatu forum luar negeri yang membahas mengenai quote-quote yang ada di internet, dan mempertanyakan keaslian serta keakuratan kalimat tersebut.
www.thinklings.org , itulah forum yang saya maksud. Setelah membaca dan mendalami apa yang ada dalam forum tersebut, saya mendapatkan jawaban, bahwa apa yang telah tersebar di internet bukanlah kata-kata asli Goebbels, namun merupakan pemahaman yang keliru dari orang-orang yang membaca buku mengenai Goebbels dan kemudian membuat kalimat dalam bahasanya sendiri, dan menyebarkannya di internet.

Memang, kalimat di atas tidaklah salah. Secara logika kita dapat menerima pernyataan tersebut; jika kalian menceritakan sebuah kebohongan besar dan terus-menerus mengulanginya, maka orang-orang pada akhirnya akan percaya pada apa yang kita ceritakan. Ya, itulah fakta yang ada saat ini. Namun terlepas dari apa yang ada, penggunaan nama seseorang untuk memberikan legitimasi atas suatu kalimat bukanlah hal yang patut dilakukan.

Oke, mungkin beberapa diantara kalian akan bertanya, memangya masalah ya kayak gini? Toh artinya ujungnya sama aja, dan lagipula hal semacam ini ga terlalu penting.

Fine, kalian boleh berbicara seperti itu. Tapi mari kita lihat lagi, kata-kata yang sering disalah gunakan;

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing" – Edmund Burke

Terjemahan bebasnya adalah ; satu-satunya hal yang dibutuhkan agar kejahatan dapat menang adalah seorang pria baik yang tidak melakukan apa-apa.
Sekilas setelah kita cerna melalui logika kita, apa yang dikatakan oleh Edmund Burke memang lagi-lagi suatu fakta yang ada. Namun kemudian, saya sekali lagi berusaha mencari kebenaran dari quote tersebut. Apa yang saya temukan, ternyata tidak sesuai lagi dengan apa yang sering saya lihat di berbagai sumber internet; sumber yang terpercaya, dan terdapat bukti nyata dari sumber tersebut, menyebutkan quote sebenarnya berbuny seperti ini, diambil dari Burke's "Thoughts on the Cause of Present Discontents": "When bad men combine, the good must associate; else they will fall one by one, an unpitied sacrifice in a contemptible struggle."

See? Lagi-lagi hal lain yang dipelintirkan dari fakta yang sesungguhnya ada. Mungkin ini masih belum cukup bagi kalian semua, yang masih tidak sependapat dengan saya. Tapi bagaimana jika kejadian tersebut berada di Indonesia? Dan tidak hanya satu atau dua orang yang melakukan hal tersebut? Potensi konflik dapat terpicu karena adanya hal ini. Mari kita bersama-sama melihat realita sosial yang ada di Indonesia, dalam hal ini saya akan memfokuskan diri pada para pengguna internet yang ada di Indonesia.


Agar bisa lebih nyaman membaca, akan saya pisah menjadi dua bagian artikel yang terpisah :)

Rabu, 12 Februari 2014

Rediscovering Memories : All about "13"

Akhirnya niat update lagi. Yah, emang musuh paling besar dari menulis itu menurut saya adalah malas. Kalau udah malas, niatan menguap kemana-mana. Kalau udah menguap, ilang deh. Dan endingnya bisa ditebak, ga jadi ngeposting lagi di blog.

Sekarang, saya mau bahas mengenai sedikit masa lalu saya. Saya akan njelasin, kenapa blog ini namanya mengandung unsur 13. Kenapa email saya ada 13nya. Kenapa alamat fb saya ada 13 nya. Kenapa saya demen angka 13 di unsur username saya. Tanya kenapa?

Oke, semua ini berawal dari kejadian waktu kelas 2 SMA. Tepatnya, kelas 2 SMA semester 1. Kalau nggak salah, sekitar akhir tahun, tepatnya bulan Oktober, 29 Oktober 2011. Seorang teman dari kelas IPS mengajak saya pergi ke Jogja. Saya yang kurang tau soal Jogja, cuma angguk-angguk tanda setuju. Yah, itung-itung cari pengalaman.

Setelah kumpul, baru saya tahu rencana kita semua ke Jogja, untuk nonton konser. Wait, konser? Yep, konser band yang diadakan di RRI Jogja.

Saya yang "buta" soal musik, setuju untuk ikut. Kapan lagi bisa liat konser macem gini?
Singkat cerita, setelah muter-muter (yang bisa dikatakan sangat lama) sampailah kami ke tempat tujuan.
Bingung, ya, karena saya belum pernah liat konser semacam ini sebelumnya. Ya, saya memang kurang mengerti hal semacam ini. Soal musik pun, saya ngga terlalu tertarik. Siapa sangka, ini jadi salah satu turning point dalam hidup saya. Serius !

Kemudian, kami masuk ke dalam ruangan. Pengap, asap rokok dimana-mana. Bau keringat, rokok, baju yang ga pernah dicuci, kaos kaki, campur jadi satu. Suara cukup keras terdengar dari beberapa speaker yang dipasang di dalam ruangan.

Saat itu, di panggung tengah tampil band yang saya lupa namanya. Pertama, yang kami cari adalah tempat untuk menonton. Setelah beberapa lama berada di belakang, kami memutuskan untuk berpindah tempat ke depan panggung (yang kemudian saya sesali, karena saya berdiri tepat di depan speaker)

Setelah menunggu beberapa saat, munculah band yang kami tunggu. Thirteen. 13 !
Meskipun belum terlalu mengetaui Thirteen saat itu, saya sempat mendengarkan beberapa lagunya. Dan ketika melihat penampilan livenya, hanya satu kata : AMAZING !

Dimulai dengan membawakan beberapa lagu dari album mereka yang terbaru, Epidemic, saya merinding ketika mereka menyanyikan Jakarta Story, dan S.A.D.A. Luar biasa !
Sayang sekali, saya yang waktu itu bener-bener belum melek soal dunia musik belum bisa ikut  "joget" menikmati hentakan yang terdengar dari loudspeaker di depan saya ( literally, karena posisi saya waktu itu benar-benar di depannya, yang berarti suara loudspeaker sebesar itu mengena tepat di telinga).
Saya hanya terdiam, sekali-sekali menyanyi mengikuti crowd yang tampak sangat excited terbawa suasana.
Luar biasa, kata-kata itulah yang berulang kali saya katakan dalam hati. Tangan saya yang memegang kamera SLR sampai tak sempat saya pakai memotret penampilan mereka ( disamping memang saya gak bisa pake SLR :p )

Akhirnya, konser selesai. Teman-teman saya yang ikut moshing kembali berkumpul bersama saya. Lelah, penuh keringat, namun tampak sangat puas. Wajah mereka sudah cukup menggambarkan hal-hal yang tak terdefinisikan itu.
Singkat cerita, konser berakhir. Ketika pulang, saya sempat berjabat tangan dengan pemain Synth Thirteen saat itu, Eponk. Kemudian, ketika akan kembali ke motor, tiba-tiba kami melihat bang Raynard yang saat itu menempati posisi scream / growl, akan kembali ke mobil. Serempak kami menghampiri, dan setelah berjabat tangan dan sejenak bercakap-cakap, mengutarakan maksud kami, foto bersama !
Bang Raynard ternyata sangat ramah. Beliau sempat bertanya darimana asal kami. Meskipun singkat, saya dapat menangkap dari percakapan tersebut, bang Raynard adalah sosok yang friendly. Yep, kemudian saatnya foto-foto !

Sesaat setelah berpose, salah seorang teman saya mengambil posisi untuk memotret. Hening. Tidak ada cahaya flash, tidak ada suara, bahkan tidak tampak ada gerakan dari si teman tersebut.
Kemudian dia berkata " Kok mati kameranya? Ga mau nih"
Sambil tersenyum, bang Raynard mendekatinya, dan berkata " Lensanya tuh belum dicopot"
Cengar-cengir malu, dia kembali mencoba memotret kami. Tapi tetap tak bisa. Alhasil, kamera handphone salah satu teman saya yang akhirnya dipakai untuk berfoto. Sempat kecewa juga, namun kami tetap bersyukur dapat berfoto dengan bang Raynard.

Setelah berpamitan, perlahan dia menghilang dari pandangan, menuju ke mobilnya. Kemudian kami memutuskan untuk beristirahat, dan you know what? Kami beristirahat di sebuah Mushola di dekat kebun binatang Gembira Loka. Tanpa alas, tanpa bantal, tanpa selimut. Kami dapat tidur dengan nyenyak, saking nyenyaknya, ketika pagi tiba, saya merasa seseorang menyentuh kaki saya.
Dingin, itulah yang saya rasakan. Bukan, bukan hantu yang menyentuh kaki saya, -_- .
Oh, ternyata seorang bapak bijak yang mengingatkan teman-teman saya yang beragama Islam untuk melaksanakan kewajibannya, sholat pagi.

Singkat cerita, hari itu kami pulang. Puas, gembira, bahagia, senang, menjadi satu dalam diri saya. Sejak saat itu, pikiran saya menjadi lebih terbuka akan keanekaragaman musik yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Meskipun bukan pemain musik, saya menjadi gemar mendengarkan musik.

Tentu saja, thirteen menjadi band favorit saya. Mungkin bagi sebagian orang, ada yang beranggapan apa enaknya mendengarkan suara orang screaming / growling  ketika menyanyi? Bukankah hanya mengganggu?
Namun tidak bagi saya. Thirteen bukanlah band sembarangan yang asal screaming dan growling. Lirik-lirik yang terdapat dalam lagu mereka, menyimpan makna tersendiri. Bagi saya sendiri, lebih baik mendengarkan musik dengan genre whatevercore tapi memiliki makna lebih daripada musik yang sekarang banyak terdapat di tangga lagu Indonesia, tapi dengan lirik asal-asalan, hanya demi memenuhi tuntutan pasar. Itu opini saya sih, kalau ada yang beda, ya silahkan, namanya juga opini :)

Itulah alesan kenapa saya menyertakan 13 dalam username, email, maupun blog saya. 13 itu angka sial? Ah, hanya mitos. Kalian dapat memilih : menuruti mitos tersebut, dan larut di dalamnya, atau mematahkan mitos tersebut. Bagi saya sendiri, 13 adalah angka spesial. Angka yang menjadi nama sebuah band yang turut memegang peranan penting dalam diri saya, turning point yang begitu berarti. Kalau boleh menambahkan, gaji ke 13 juga merupakan salah satu bukti nyata bahkan para pegawai pun menanti kehadiran angka 13, hahahaha XD


Oh iya guys, mau sedikit sharing juga foto saya dulu, meskipun ga banyak, tapi lumayan buat kenang-kenangan, hehehe :)

Sabtu, 08 Februari 2014

IP; Dilema mahasiswa antara usaha, hasil, ekspetasi, dan realita

Life Cycle of a College Student

Yo, sekarang saya mau buat sebuah renungan singkat mengenai IP. 


Wait, kenapa harus IP? 
Ehem, jadi begini. Kan kalian sendiri juga udah tau, ada beberapa fakultas yang telat ngeluarin nilai-nilainya, yap, fakultas saya termasuk. Sebenarnya nggak telat juga sih, cuma kalau dibanding fakultas lain yang udah duluan ngeluarin nilai di web mereka, ya emang fisipol paling telat, wong kami testnya juga kelarnya baru juga kemarin tanggal 17 -_-


Oke, back to topic. IP, atau biasa disebut Indeks Prestasi, adalah hasil yang dapat kita lihat di web akademik yang ada di universitas kita masing-masing. IP adalah hasil dari beberapa nilai yang ada, dan kemudian dirata-rata. Rentang IP mulai dari 0 koma sampai paling tinggi 4. Sementara  nilai sendiri didefinisikan dengan abjad. Ada A, B, C, D, sampai F paling parah --"

Yap, sekarang masalahnya, kenapa IP jadi masalah yang bisa dibilang agak sensitif?
Baik, akan saya mulai dari definisi IP, dan bagaimana IP itu kita dapetin.
Seperti kita tahu, IP adalah hasil dari kerja keras kita selama satu semester ( jika emang kita kuliah sungguh-sungguh lho :p ) dan merupakan "buah" dari "biji" yang telah kita tanam. Buah yang akan kita dapatkan hasilnya tergantung dari bagaimana kita merawat biji yang telah kita tanam tadi. Kalau emang kita perhatikan dan kita rawat sungguh-sungguh, tentu hasilnya baik dan memuaskan. Namun, kalau kita cuek-cuek aja, ya hasilnya berbanding lurus dengan apa yang telah kita perbuat. 

Nah, akan tetapi ada hal menarik disini. Kita tidak sendirian dalam berusaha menghasilkan buah yang baik tersebut. Masih ada faktor-faktor yang mempengaruhi apa yang akan kita dapatkan, diantaranya adalah faktor dosen yang bersangkutan.Kok bisa dosen? Oke, saya akan kasih ilustrasi ini.

Dosen ibaratnya adalah pemilik kebun yang kita tanam. Ketika sudah berusaha semaksimal mungkin, namun jika beliau nggak menghendaki kita membawa pulang hasil yang telah kita tanam, ya sama aja zonk ! Nah sama juga disini. Ketika udah usaha semaksimal mungkin, tapi jika dosen nggak menghendaki IP kita bagus, ya ga akan dikasih bagus -_-
Pernah nggak, kalian mengalami hal ini ; Kalian merasa sudah maksimal mengerjakan tugas, sudah berusaha sebaik mungkin mempelajari materi yang diberikan, namun mendapat hasil tidak maksimal?
Jika ya, jangan terburu-buru menyalahkan dosen yang bersangkutan. Lho, gimana maksudnya?
Dosen juga manusia. Dosen bukanlah dewa yang selalu benar, adakalanya dosen juga melakukan kesalahan dalam melakukan tugasnya. Dosen juga bukanlah mesin yang nggak mempunyai perasaan, dan hanya mengandalkan logika. Dosen adalah seorang manusia, yang bisa merasakan, bisa menilai keadaan, dan butuh interaksi yang harmonis dengan anak didiknya.

Jika boleh berintrospeksi, ada kalanya kita harus melihat apa yang telah kita lakukan. Di atas sudah disebutkan, usaha, tugas, belajar, dirasa udah maksimal. Tapi mengapa nilai tetep ga sesuai ekspetasi?
Kita harus melihat realita yang ada. Meskipun idealnya Dosen harus objektif dalam menilai, tak dapat dipungkiri, Dosen juga manusia yang memiliki perasaan. Tidak bisa dikatakan, dosen selalu objektif. Pasti adakalanya, dosen menjadi subjektif dalam memberikan nilai.
Misalnya, ia mengajar kelas yang menyenangkan, anak didik yang memperhatikan, dan situasi yang kondusif. Sudah dapat dipastikan ia akan senang dengan keadaan tersebut, dan bukan tidak mungkin ia menjadi dermawan ketika memberikan nilai.
Bandingkan dengan dosen yang mendapati kelas yang tak pernah memperhatikan, banyak mahasiswanya yang TA, dan suasana kurang kondusif. Mau tak mau, sebagaimana manusia pada umumnya ia pasti akan merasa tidak nyaman, bahkan tidak suka pada kelas seperti itu. Jika sudah begini, kita nggak akan tahu, dia akan memberikan nilai apa kepada kita. ( yep, ini pengalaman saya -_- )

Melihat fakta yang ada di atas, sepantasnya kita kembali merenung. Jika IP yang kita dapat memang sudah memuaskan, kita patut bersyukur dan berusaha terus meningkatkan hasil yang terus kita dapatkan. Akan tetapi, jika belum memuaskan, mari kawan, bersama kita berhenti misuh-misuh atau marah-marah. Ingat kembali kesalahan apa yang telah kita lakukan, dan perbaiki kesalahan itu di semester depan. Jangan pernah mencoba menyalahkan dan mencari kambing hitam atas apa yang telah kita lakukan. Cobalah menjadi ksatria yang berani mengakui kekalahan diri sendiri, dan memperbaikinya. ITU ! *sambil nunjuk dengan aksen Mario Teguh*

Yo, setelah definisi di atas, balik lagi ke masalah awal. Kenapa IP bisa jadi hal yang sensitif banget? Yap, menurut saya hal ini dikarenakan IP yang didapat tiap anak yang berbeda. Lha, beda kok jadi masalah? 
Ini poinnya. Ada anak yang merasa sudah berusaha maksimal, eeeh dapatnya cuma 3. Sementara ada anak yang di kelas kelihatannya cuma main-main, eh dapat IP 4.
Ya, itu kan yang keliatan doang. Siapa tau juga dia tekun belajar di rumah / kosnya. 
Akan tetapi, gimana perasaan anak yang merasa udah usaha maksimal? Wajarnya sih dia bakal ngga terima. Kalau udah ngga terima, wah ke depannya bakal susah tuh -_-
Lagipula, IP adalah hak kita sendiri. Jika memang ada orang lain yang ingin tau, ya itu terserah kita, mau beritahu apa nggak. Syukur-syukur kalau IPnya bagus, pasti dengan senang hati ngasih tau, tapi kalau jelek, gimana coba?

Oh, sekalian, saya juga agak prihatin. Demi IP yang bagus, banyak mahasiswa yang cenderung jadi pragmatis. Dia cuma melihat hasil akhir aja, tanpa memandang usaha yang telah dilakukan. Karena itu juga, banyak esensi dari belajar ilmu pengetahuan yang hilang. Mereka hanya mementingkan hasil akhirnya saja, sehingga ada juga mahasiswa yang menghalalkan segala cara, termasuk menyontek untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Padahal, kita belajar tidak hanya untuk mendapatkan nilai semata. Kita belajar, sesuai dengan tujuannya, untuk mencari "pencerahan" atas "kegelapan" yang ada. Kita belajar untuk memahami, mengerti, dan kemudian menerapkan apa yang telah kita pelajari. Bukan semata menghafal, tanpa memahami esensi dari apa yang telah kita pelajari.
Kita juga wajib memberikan ilmu yang telah kita pelajari kepada orang lain, karena sesuai hakikatnya, ilmu tidak akan berkurang. Semakin banyak kita berbagi ilmu, semakin kita akan terlatih dan menguasai ilmu tersebut. Ilmu adalah hak setiap orang, dan ilmu selalu tersedia bagi mereka yang membutuhkannya.

Nah, untuk menutup renungan kali ini saya akan memberi satu pengalaman saya ketika berbicara mengenai IP dengan salah seorang teman saya, sebut saja Dhano. Begini isinya;

A : Haduh, IP kok diumbar-umbar. 
D : Iya he,  -_-
A : Dhan, menurutmu piye ki statementku? IP itu sebenarnya seperti alat kelamin bagi laki-laki. Kalau IPnya gede, emang bagus, tapi ya ga usah diumbar juga kali sama temen-temen, malu-maluin.
D : Lha kalau kecil?
A : Apalagi. Epic fail !

D : Hahaha, sakkarepmu lah ndre, ndre...
A : Eh statementku ga berlaku waktu wisuda lho, soalnya pas wisuda kan ditunjukin ke umum tuh IP Kumulatif yang paling gede, hahahaha
D : Iya iya, hahahaha 

Oke, gitu aja dari saya... Jika ada kritik dan saran, langsung aja tulis di komentar ya... Makasih :) Oh ye, selamat malam mingguan bagi yang merayakan, hahahaha XD

Kamis, 06 Februari 2014

Review buku Anak Kampus : Catatan Perjuangan Mahasiswa Pas-Pasan

Oke, kali ini biar lebih enak pakai bahasa santai aja ye. Pada artikel ini gw akan bikin review mengenai buku yang baru aja gw beli kemarin bareng pacar sama temen gw di Jogja. Judul bukunya Anak Kampus : Catatan Perjuangan Mahasiswa Pas-Pasan. Lagi muter-muter ga jelas di gramed, tiba-tiba lihat ini buku. Ketika nengok harga, ah syukurlah terjangkau. Ketika liat review di belakang buku, gw tertarik. Alhasil dengan sukses gw membeli buku ini. Buku ini kayak kebanyakan buku-buku yang ditulis mahasiswa-mahasiswa blogger yang ada. Tapi tunggu dulu, bukan berarti buku ini nggak spesial. Mau tau spesialnya? Baca dulu gih review gw kali ini :)

Kuliah.
Apa yang kalian pikirin ketika mendengar kata kuliah? 
Dateng ke kampus, nongkrong, haha hihi sama temen-temen, ketemu cewek cantik, kenalan, terus jadian deh. Tunggu, itu sinetron banget. Tapi emang begitulah gambaran yang ada di film-film Indonesia saat ini. ( Eh sebenarnya di luar negeri ada juga film model gitu :hammer: )
itu jugalah gambaran yang ada di Aditya Bayu, penulis buku ini. Haha, sebenarnya bayangan gw dulu juga gitu sih ( dangkal banget pemikiran gw, duh )

Adit, menceritakan secara runtut pengalaman yang dia lalui semasa kuliah dulu, mulai dari rencana awal daftar kuliah, milih kampus, dan akhirnya keterima di UGM. Yep, doi emang kuliah di UGM, tepatnya di fakultas filsafat. Fakultas para pemikir. Fakultas dimana terdapat ilmu yang menjadi ibu semua ilmu yang ada.

Pengalaman-pengalaman yang dialaminya masih berlanjut. Ia juga cerita mengenai kisah cinta yang dialami ( meskipun endingnya tragis semua ), organisasi-organisasi yang diikutin, sampai pengalaman super absurd seperti pake slayer celana dalam. Bentar, celana dalam? Iye, celana dalam. Sempak. Cancut. Masih ga kebayang gimana bentuknya? Di buku ini disediain gambar juga kok buat lu pada yang mau ikut nyobain buat slayer dari sempak :D
Kemudian, menjelang ending dari buku ini, dia juga nyeritain gimana saat-saat terakhirnya berada dikampus (bukan mati lhoh -_-) , saat-saat dia ngadepin skripsi, sampai akhirnya di ending, dia bisa... Bisa... Oke, biar penasaran, beli bukunya aja gih, itung-itung ngamal buat si Adit wkwkwkwk.
Ah, rasanya jadi ikut seneng bisa ngliat akhir bahagia dari si Adit. Apalagi, dia cerita dia dari dulu emang udah biasa prihatin, sampe-sampe kena tipu investasi bodong ( duh )

Bagian yang gw juga suka dari buku ini, dia motivasi kita buat tetep ngejar cita-cita kita. Kejarlah mimpi kita, karena jikalau gagal, setidaknya hidup kita nggak stagnan. Kita telah bergerak, bukan tetap diam di tempat. 
Selain itu, dia juga kasih motivasi buat yang mau kuliah tapi bingung ga ada biaya. Jalan selalu ada buat mereka yang mau berusaha, kawan ! 

Overall, buku ini emang bagus :) Cocok buat nambah koleksi :D cerita-ceritanya bisa bikin gw ketawa, apalagi di bagian slayer sempak. Oh God. 
Selain itu, gw juga kasih nilai lebih untuk motivasi yang disisipin di dalam buku ini. Inspiring, Dit. Serius. :)

Akhirnya, itulah review singkat gw mengenai Anak Kampus, sebuah buku dari Aditya Bayu.... Jika pengen tau lebih lengkap, monggo beli sendiri gih, seperti gw bilang, sekalian ngamal buat si Adit, biar dia ga pake slayer sempak lagi wkwkwkwkwk XD

Selasa, 04 Februari 2014

Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust....

"Ndre, Benny udah berpulang ke hadiratNya"

Kaget. Ga percaya. Hanya itu yang terpikir ketika membaca pesan dari salah seorang sahabat yang masuk di HP kurang lebih jam 11 malam, 3 Februari 2014 kemarin. Pesan tersebut baru saja saya baca ketika bangun tidur, kurang lebih jam 4 pagi.


Dikarenakan "nyawa" masih belum sepenuhnya terkumpul, saya kaget dan otomatis bangun. Melihat, dan berusaha mencerna lagi sms tersebut. Ya, sms tersebut benar adanya. Setelah konfirmasi ke teman-teman yang bersangkutan, dan melihat kabar di jejaring sosial, saya hanya bisa terdiam, dan kemudian menunduk, berdoa sejenak kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Benny diterima disisiNya.


Benny Oktarius Duha. Ya, nama lengkap kawan saya yang berasal dari jurusan pemerintahan dan politik UGM. Saya pertama kali mengenalnya ketika kami bersama-sama mengikuti retret untuk mahasiswa baru gelombang pertama. 

Sosok yang ceria, selalu semangat, dan sangat antusias dengan dunia kuliahnya. Itu penilaian subyektif yang bisa saya berikan untuk Benny. Masih segar di ingatan saya, ketika itu dia sedang membuat yel yel untuk teman sekelompoknya, yang waktu itu dibentuk untuk mengikuti permainan yang diselenggarakan saat retret. Kemudian, pikiran saya melayang kembali sewaktu saya mengikuti Mata Kuliah wajib Agama Katholik. 

Perjumpaan kembali dengan dia menyegarkan ingatan lama saat retret. Dan ternyata dia masih mengenali saya, meskipun sudah lama tak berjumpa. Kami kembali mengobrol dan duduk bersama, membicarakan mengenai apapun yang bisa dibicarakan.

Ah, mungkin perjumpaan dengan Benny memang terlalu singkat. Tapi yang bisa saya katakan, Benny meninggalkan kesan tersendiri di dalam diri saya. Ia selalu tampak sangat bersemangat menjalani perkuliahan. Saya juga masih ingat ketika ia masih menyempatkan diri untuk mengikuti misa Ekaristi Kaum Muda yang diadakan di Gereja Kota Baru, Yogyakarta waktu itu. 
Semangatnya sungguh luar biasa, saya benar-benar salut akan hal itu.
Benny, selamat jalan. Saya percaya, kau masih akan terus belajar, tidak hanya di sini. Di atas sana, kau akan belajar ilmu pemerintahan dan politik yang lebih baik lagi. Di sana kau akan melihat politik yang suci, politik yang benar-benar merupakan dambaan semua orang. Dan kami semua yang ada di sini berharap, kami juga dapat merasakan keadaan serupa. Dimana tidak ada lagi politik "kotor". Amin.

Selamat jalan Benny, Tuhan besertamu selalu... 


Untuk mengakhiri tulisan kali ini, ijinkan saya mengutip salah satu ayat kitab suci, yang menjadi favorit saya, dan saya rasa cocok untuk tulisan kali ini..



Psalm 23

The Lord is my shepherd; I shall not want.
He maketh me to lie down in green pastures: he leadeth me beside the still waters.
He restoreth my soul: he leadeth me in the paths of righteousness for his name's sake.
Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil: for thou art with me; thy rod and thy staff they comfort me.
Thou preparest a table before me in the presence of mine enemies: thou anointest my head with oil; my cup runneth over.

Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life: and I will dwell in the house of the Lord for ever.

Jumat, 31 Januari 2014

Just a welcome note

Akhirnya, setelah memendam keinginan sekian lama akhirnya saya bisa juga buat blog...
Hell, buat blog, apasih susahnya, mungkin sebagian besar orang mempunyai pikiran kayak gitu. Yep, buat blog emang ga susah, tapi buat saya, yang susah itu ngumpulin niat buat bikin blog.


Mulai dari dulu, SMA kelas 3. Saya pengen banget punya blog, berisi tulisan - tulisan dan review game - game yang udah pernah saya maenin. Tapi apa daya, akhirnya cuma wacana belaka...

Kemudian, sewaktu kuliah. Saya kuliah di Universitas Gadjah Mada, jurusan Sosiologi. Kembali hasrat yang lama terpendam muncul kembali. Saya membulatkan tekad, bikin blog ! Pokoknya harus jadi !
Jika kalian tanya apa yang memotivasi saya buat bikin blog, akan saya jawab simple; untuk mengkritisi dan memberikan pandangan saya terhadap masalah - masalah yang ada di Indonesia. Jujur saya gatel banget sumpah, ngliat apa yang terjadi di Indonesia akhir - akhir ini.
Berbagai masalah terjadi, mulai dari masalah yang berakar dari sistem yang sangat korup, sampai masalah yang sangat sensitif dan menyinggung apa yang bernama agama. Iya, saya gerah, gatal liat berbagai peristiwa itu.

Dan untungnya bagi saya, di Sosiologi saya dilatih untuk menjadi seorang yang dapat melihat berbagai fenomena yang ada dengan objektif, bukan subyektif. Disini saya bener - bener merasakan manfaat ilmu yang saya dapatkan di sosiologi. Di sini pula saya dilatih untuk menjadi seorang indivdu yang menggunakan prinsip Non Etis ketika melihat suatu fenomena.


Akhir kata, di blog ini saya akan berbagi pemikiran, pandangan, dan argumen saya mengenai berbagai fenomena yang ada di Indonesia ini ( tak menutup kemungkinan juga fenomena di luar negeri ) dalam perspektif ilmu saya, Sosiologi.


Kemudian ijinkan saya mengutip beberapa kata dari salah satu film favorit saya, mengenai bagaimana kita harus menjalani hidup 

'So live your life that the fear of death can never enter your heart. Trouble no one about their religion; respect others in their view, and demand that they respect yours. Love your life, perfect your life, beautify all things in your life."